Bahagia itu sederhana!

 

Sepasang suami istri itu mesra sekali, meski diusianya yang telah senja. Sang Ibu yang sudah keriput, dengan tudungnya yang lusuh berbalut kulitnya yang legam setia menyapaku atau sebatas melempar senyum setiap kali aku lewat didepan gubuk warungnya yang super mini. Entahlah perasaan apa ini aktivitas Ibu dan Bapak itu menarik perhatianku. Sekilas ku amati, jika ada pembeli diwarung itu si Ibu dengan sumringah menyambutnya seperti raja meski yang dibeli hanya Rp.500. ketika si Ibu sedang menuangkan kopi untuk si pembeli, maka si Bapak dengan sigapnya menyambar teko tersebut dan lembut berkata “sini Bu biar Bapak saja, airnya masih panas”. Yaa Tuhan, diusianya yang tak lagi muda sepasang calon penghuni surga tersebut (InsyaAlloh) saling membantu, saling pengertian dan perhatian. Apakah perasaan ini?

 

Benarkah bahagia bukan hanya milik orang-orang yang dekat dengan kemajuan dan perkembangan saja? Benarkah kebahagiaan tersebut masih mau menghinggapi kami yang dipinggiran ini? Benarkah bahagia itu tidak pandang bulu? Benarkah kami masih berhak bahagia dengan segala keterbatasan dan kekurangan kami? Benarkah Tuhan? Benarkah kami tidak perlu mambayar banyak rupiah untuk bahagia? Benarkah?

 

Dan sepasang suami istri itu menjawabnya, mereka membuktikannya. Ternyata Tuhan selalu baik, bahagia itu masih gratis dan mudah! Bahagia itu sederhana!

 

“Nak, buat kami bahagia itu seperti ini (beliau menggambarkannya). Makan cukup meski Cuma sehari sekali dan hanya seadanya, biaya buat sekolah anak cukup meski harus gali tutup lobang, kami bahagia Nak dengan apa yang sudah Alloh berikan kepada kami. Bahagia itu berkah, dapet sedikit tapi kami merasa Alloh mencukupinya. Bahagia itu sederhana Nak! Bahagia itu menerima dengan legewo pemberianNya. Kami bahagia, tapi tak kami pungkiri terkadang bahkan sering kami iri dengan orang-orang yang digedongan sana. Mereka seperti punya Jin untuk mengabulkan keinginannya. Ingin ini “cling” langsung ada, ya paling tidak mereka tidak menunggu lama untuk apa yang mereka inginkan. Tidak seperti kami, yang ingin makan diwarteg saja harus berkumpul uang berbulan-bulan, baru bisa makan enak. Tapi itulah bahagianya, lelahpun menjadi suatu kebahagiaan buat kami.”

 

Oh Tuhan, aku benar-benar tidak mengerti apa maksud dari pemikirannya. Benarkah bahagia sesederhana itu?