Sore ini 22 oktoberr 2011 seperti biasa menjemput senyum adik-adik terkasih.

hujan tak menyurutkan langkah saya untuk menemui senyum itu, meski sekali dua “begidik” mendengar dentuman elektron yang bertumbukan di langit sana (red petir/gluduk). Belajar dari sore kemarin, ketika saya memutuskan untuk tidak hadir dirutinitas sore itu, fikir saya adik-adik pun tak akan datang karena hujan, gentengnya bocor, mati lampu atau alasan lainnya yang menguatkan keputusan saya. Ternyata ohh ternyata, perkiraan saya meleset, jauh sekali! Pukul 16.33 waktu jember yang notabene langit sudah mulai menggelap, ketika saya sedang bersantai ria menikmati senja terdengar pekikan SMS yang meraung-raung minta segera dibaca. Kaget! Karna itu SMS dari si Ibu yang bunyinya :

“mbak, sudah pulang kuliah belum? Adik-adik menunggu, katanya mereka mau mengaji”

seperti kilat SMS itu langsung saya balas “sudah dirumah Bu, baiklah saya segera berangkat”

seketika itu juga, tidak peduli dengan baju yang sudah mulai lusuh karena kehujanan, mengambil jilbab apa saja yang bisa saya gapai, memakai kaos kaki (ketuker-tuker), mengambil tas, tidak lupa Al-Qur’an, starter ontel tercinta, dan “grrreeeengggg” ngebut dengan kekuatan tercepat yang dipunyai ontel saya. Dari kejauhan, ketika saya sudah mulai tersengal, sulit memilah oksigen yang berseliweran, ketika kayuhan kaki saya sudah mulai melemah, dan ketika itu juga saya melihat sosok gadis-gadis kecil itu berlomba berlari menuju saya sambil berteriak khas “cempreeng”

“mbbaaakkkk……” hahahaha.. hoshh..hosshh…

sengaja saya alihkan pandangan saya dari monster-monster kecil itu “belagak” tidak melihat mereka dan terus mengayuh melewati surau yang biasa kami pakai untuk mengaji. Seraya mereka berteriak

“mbaakkk, kelewatt! Kok lurus? Mbakkk, belokk! Mbakkk ini aku.. mbaakkk!!”

hahhahaa…. saya terbahak melihat ekspresi wajah mereka yang seolah kebingungan karena saya tidak berhenti ditempat biasanya.

ya, setelah saya putar balik ontel itu, merekapun berlari kembali menuju saya, berebut bersaliman, saling dorong, dan seketika itu saya mendapat cubitan yang halus, gadis itu…

“mbak kenapa telat? Kita sudah menunggu dari setengah jam yang lalu” sambil mencubit kecil pinggang saya. Dan ketika itu jualah saya berjanji pada diri saya untuk tidak telat, apalagi memutuskan untuk tidak menjalankan rutinitas sore bersama mereka para monster kecil. Saya berjanji. Senyum mereka yang tulus, kecupan demi kecupan mereka yang lembut, yang tak sengaja membuat sungai dadakan di mata saya. Dan saya berjanji untuk tetap datang apapun alasannya kecuali jika sangat syar’i dan urgent. Selain karna saya sudah memilih untuk bertanggung jawab atas tugas ini, yang lebih membuat saya menacapkan janji itu karna saya tidak ingin kehilangan senyum mereka. Saya tidak mau ketinggalan moment-moment pelangi yang melingkar dibibir adik-adik, tidak, saya tidak mau ketinggalan lagi!

“adik-adik, maafin mbak yah. Mbak telat.”

huh… “mbak telat banget”

hehe (nyengir).. hanya bisa nyengir

“mbak harus dihukum.. seperti mbak menghukum kami ketika kami tidak sholat subuh”

setujuuu.. sorak adik-adik yang lain

“oke.. oke.. mbak dihukum, silahkan. Hukumannya apa?”

“kalo kita gak sholat subuh, mbak hukum kita dengan hafalan surat pendek. Tapi jangan ahh. Kalo hafalan surat pendek tentulah mbak mengentengkan hukuman dari kami, lantas mengulangi untuk telat lagi” muka mereka terpasang “serius original”

~subhanalloh, sekuat tenaga saya menahan lelehan air mata ini, terharu. Kalimat yang penuh karakter dari mereka, membuat saya malu pada Alloh dan mereka. Astagfirulloh.. jangan jadikan saya orang yang dzolim yaa Robb.~

…ahaaa… bagaimana kalo sekarang setiap sepekan 3 atau 2 kali mbak bercerita tentang nabi-nabi? Tentang kisah para nabi?

hooo yaaa, aku setujuuuuu… adik-adik yang lain ikut mengeksekusi saya atas hukuman itu.

“baiklah, adik-adik ku yang manis kapan mbak bisa menjalankan hukuman mbak?” lagi-lagi kalah telak, monster kecil itu menang.

“SEEE…KKKAARRR…RRAAANGGG!!” kompak!

hah? “sekarang? Besok saja yah? Oke oke? Sekarang sudah sore sebentar lagi magrib, jadi kita mulai ngaji dulu. Mbak janji besok deh? Gimana?”

“oke, besok!” mimik tegas seperti para hakim yang baru mengadili

Dan hari ini diakhir kegiatan pokok kami yaitu mengaji, saya mulai memulai cerita. Bingung, menyesuaikan bahasa saya dengan bahasa mereka. Bingung bagaimana cerita ini saya kemas agar menarik buat mereka dengarkan. Ahh masabodo.. saya harus cerita!

Menyenangkan sekali melihat wajah penasaran mereka, serius, saling maju ingin mendengarkan lebih jelas lagi. Dan terus mendesak “mbak, kapan ceritanya? Lama!”

Bismillah…

malaikat itu Alloh ciptakan dari apa?

“cahayaaaaaaa”

ibils itu Alloh ciptakan dari apa?

“apiiiiiiiiiiiiiiiiiii”

manusia Alloh ciptakan dari apa?

“tanahhhhhhhhhhhhhhhh”

bagus, kalo begitu ceritanya selesai karna adik-adik sudah tau semuanya.

gak..gak…. gak mauu… huuuu…. gaak,,gak,,gak mau…

iya, iya.. mbak teruskan😀

adik-adik tahu siapa nabi, manusia pertama yang diturunkan Alloh ke bumi ini?

“nabi adaaaaaaaaaaaam”

wakti itu di surga Alloh memerintahkan malaikat bersujud pada adam, dan bla…blaa…blaa…(lihat QS. Albaqarah : 34-36 dan QS. Al-A’raaf : 11-18) sampai akhirnya adam diusir sama Alloh kebumi, sedang dibumi waktu itu gak ada apa-apa. Itulah kenapa Alloh mendesain bumi dengan sangat cantik dan luarbiasa, menyediakan makanan untuk kita, dan segala hal yang dibutuhkan manusia. Tiba-tiba disela seriusnya bercerita, ada adik yang nyeletuk

“mbak tadi bilang waktu dulu sekali dibumi gak ada apa-apa? Terus nabi adam makannya pake apa? Kok bisa hidup? Dan punya keturunan? Nabi adam pake baju gak yah? Duh kasian yah nabi adamnya”

“kalo nabi adam mau makan ya gampang, tinggal panggil tukang sate aja terus pesen, sate campur lontong” gak usah lebay deh pake kasian sama nabi adam segala. salah satu adik menjawab pertanyaan temannya

Renyah, seluruh isi surau terbahak. Ahh dasar anak-anak. Selalu menyenangkan, sederhana, tulus dan apa adanya.