Bismillahirrohmanirrohiim..

Berawal dari road show sosialisasi Indonesia Mengajar (IM) sabtu, 21 april 2012 di gedung serba guna new sari utama mangli-Jember. Cerita ini mulai kurajut, mulai kutanam sebagai harapan dan cita masa depan. Tidak ada yang spesial dengan road show tersebut, biasa saja menurutku. Anies Baswedan, nama itu mulai kutahu ketika aku mendapat selebaran brosur yang tercecer dikelas saat mengikuti mata kuliah kinetika kimia. Brosur hitam putih, terpampang cetak tebal bertuliskan “INDONESIA MENGAJAR AWALI LANGKAHMU DENGAN MENGAJAR”. Sebelum mendapat brosur tersebut sebenarnya selenting aku sudah mengetahuinya dari SMS Jarkom HMJ Neutron Fisika-UJ, tapi sayang tidak menarik dan aku delete begitu saja. Masih dikampus, hanya saja berganti jam kuliah, menuju kelas kesetimbangan kimia dan aku berhenti dimushola kecil ukuran 2x2M untuk menemuiNya, kemudian bertemu dengan adik tingkat yang tiba-tiba menyapa “hei mbak, sampean ikut seminar Indonesia Mengajar?” sambil memukul bahuku hingga bergetar. Belum sempat ku jawab pertanyaannya, dengan kilat dia menusukku dengan pertanyaan lagi “ayoo ikut mbak, sudah daftar? Kuotanya cuma untuk 700 peserta dan sampai saat ini (waktu itu minus 7 hari dari terselenggaranya IM) sudah sekitar 600 peserta yang mendaftar. Terakhir pendaftarannya sampai hari rabu dan bla..bla..bla..” ahh, panjang sekali pertanyaan kau dik celetukku dalam hati.

Hanya selang sepersekian detik dari pertanyaan yang bertubi itu, refleks tangan ini mengeluarkan Handphone usangku, kemudian membuka menu massage dan mengetik DAFTAR *** KIMIA FMIPA 2009 NIM 091810301010 melesatlah kalimat tersebut keangkasa melewati gulungan awan, menerobos atmosfer mencapai satelit kemudian dipantulkannya lagi kebumi dengan waktu kurang dari 0,000000xx detik. Cepat! Sangat cepat, melebihi kedipan mata. dan di posisi bumi yang lain (yang jaraknya lebih dekat dari satelit angkasa) ternyata kalimat tersebut dibacanya (contac person panitia IM).

Tibalah sabtu, 21 April 2012 bertepatan dengan Hari Kartini jam 5.30 am waktu Jember sepucuk SMS mesra dari adik tingkat yang mengingatkan untuk berpartisipasi dalam aksi “Kartini Modern” menebar cokelat di jalan Double W depan kampus mungilku. Ingin tapi tak ingin (aras-arasen dalam bahasa jawanya), tapi terasa begitu semangatnya gerak hatiku yang tak diimbangi gerak fisik ini. Agenda hari ini padat sekali, tapi tidak sedikitpun tanda-tanda dari tubuhku bergerak untuk menunaikannya. Jam 6.30 masih dengan wajah lusuh ku popang tubuh ini untuk beranjak sekedar ke kamar mandi atau makan saja. Suasana kost sudah semakin ramai, kicauan teman-teman yang sedang mencuci berjamaah (kebiasaan sabtu pagi) terdengar hingga menguburkan rasa malas ku. Terpaksa, tertatih membuka pintu dan menyapa teman-teman yang menghampiriku menuju kamar mandi. “Nie, kamu gak berangkat ke IM?” suara cantik yang sangat kukenal intonasinya, dialah suara milik Novi. “iya Pi, tapi siangan. Berangkat sendiri” suara parau dalam logat sundaku. “Loh, dek  mau ke IM juga?” suara khas madura yang juga tak asing kudengar, dialah suara mbak Mila. “iya mbak” jawabku singkat. Senyum mbak Mila yang melebar menawariku untuk berangkat bersama (seperti biasa “nebeng” begitu aku membahsakannya). Seperti disuntikan stimulan, langsung peredaran darah ini mengalir normal kembali seperti ada yang sudah mengaturnya. Aku akan pergi berdua, gratis tanpa bayar angkot. Pukul 7.40 am melesatlah kuda putih-biru beroda milik mbak Mila.

***

            Masih dengan perasaan aras-arasen aku memasuki ruangan tersebut, hal pertama yang kulihat adalah penampilan dari adik-adik kecil menari dengan enggang. Tentu saja, secara otomatis aku bergegas mencari tempat yang paling depan untuk melihat aksi mereka. Karena telat, dan katanya kata panitia yang hadir lebih dari 700 peserta walhasil aku dan mbak Mila dapat tempat duduk shaf kedua dari belakang dengan gerutu sebal karena dibelakang kami salah dua peserta tersebut rusuh tak khidmat. Masih sebal dan bising sekali mendengar 2 peserta tersebut tidak bisa tutup mulut, terkekeh terbahak tanpa menghiraukan sekelilingnya. Aku berusaha khusyuk ketika MC memanggil sosok Anies Baswedan, menyimak sedetail mungkin setiap cerita dari orang asing yang kini aku merasa sangat dekat dengannya. Sedetik aku merasa orang itu (Anies Baswedan) sangat asing, selanjutnya aku merasa sangat dekat dengannya, sangat mengenalnya. Yang paling menarik dari perkataan pak Anies dan yang membuka mataku lebar-lebar adalah “mereka (pengajar muda) disana tidak diberi target blaa..blaa..blaa.. mengenai nilai atau kelulusan sekolah tersebut, tapi mereka disana diharapkan akan menjadi visualisasi mimpi masa depan anak-anak itu. Hadir jadi inspirasi tumbuhkan harapan dan optimisme mereka” kalimat yang menggulingkan molekul H2O dimataku, bercecer, mengalir melewati tekstur pipiku yang tak rata. Inilah kalimat yang baru ku sadari ternyata menjadi kalimat super yang beruasaha ku bangun dalam kehidupanku. Menjadi inspirasi untuk orang lain..

Masih diruangan yang megah itu, masih dengan lebih dari 1400 mata peserta seminar sosialisasi, aku menjadi sangat kagum, sangat kagum, kagum dengan sosok Anies Baswedan. Dia berhasil menginspirasiku saat itu!

Bersambung…