iya, kapan??

sebenarnya pertanyaan itu yang menggelitik hati saya selama sekian tahun perkenalan dengannya. pertanyaan ini muncul bertubi-tubi beberapa bulan belakangan ini. pertanyaan ini meneror meminta jawaban yang tak pernah bisa saya jelaskan. pertanyaan ini meminta hak nya.
lha, saya tak bisa menjawab. karena ini bukan hanya keputusan saya saja, tapi juga keputusan dia.
dia??
dia siapa?
dia seseorang yang saya kenal via chat tepatnya nimbuzz pada sebuah room “caripacarviachat”. lelaki yang pertama kali menemui saya di stasiun Jakarta Kota (kopdar). sangat berkesan pertemuan kami. selalu indah. moment-moment pertemuan dengannya selalu indah. selalu jadi memori yang renyah untuk dikenang🙂.
itulah sekilas tentang dia.
lantas apa hubungannya kenapa dengan dia ??
jelas erat hubungannya. karena ini menyangkut masa depan yang ia janjikan. masa depan yang manis, merajut helaian nafas kehidupan untuk tetap eksis mengabdi pada Tuhan🙂. masa depan yang indah🙂.

tadi siang ada teman kampus yang cerita. ahh ceritanya membuat saya iri :p.
panggil saja ida. ya, namanya memang ida. ida cerita kalo dirinya sudah di lamar sama cowok yang sekarang jadi pacarnya beberapa waktu lalu. pertemuan pertama dengan keluarga ida sekaligus lamaran pertama yang diajukan mas  deni (nama pacarnya ida) pada orang tuanya ida saat silaturrohim ke rumahnya di Banyuwangi,. pertemuan kedua setelah beberapa hari pertemuan pertamanya keluarga si cowok datang melamar dengan resmi. subhanalloh..

ya, niat baik diiringi dengan amal (perlakuan) baik hasilnya baik juga. semua setuju, seluruh keluarga setuju meski awalnya rada ke paksa. buat ida dan mas deni hanya tinggal menunggu waktu saja untuk jadi halal. komitmen mereka adalah akan menikah jika ida sendiri sudah lulus kuliahnya. subhanalloh padahal mereka hanya kenal beberapa bulan, tapi mereka sudah berani memutuskan masa depan seperti apa yang kelak mereka harus jalani🙂. barokalloh yah, semoga kalian selalu dalam lindungan Alloh🙂. aamiin.

menilik dari cerita singkat diatas, saya benar-benar iri. padahala perkenalan saya dengan dia jauh 4x lipet lebih lama dari ida dan pacarnya. bahakan saya rasa saya dengan dia jauh lebih serius, karna hal-hal yang menyangkut pernikahan sudah pernah kami bahas dan kami rencanakan. tapi memang seperti itu, obrolan tentang pernikahan hanya menjadi topik pembicaraan kami saja untuk mengisi ruang hampa (telp) yang kosong. mungkin saja buat dia itu hanya akan jadi obrolan yang sudah berlalu. padahal bukan sekali, dua, tiga, empat, lima, sembilan, duapuluh, tigasembilan, sembilansembilan kalinya saya pancing/saya arahkan untuk membicarakan hal itu dengan serius. namun tetap saja dia selalu (seperti) mengelak, acuh dan biasa-biasa saja. sering juga saya nyeletuk sambil guyon meanyakan “kapan mau melamar saya?” “nikah yuk?” dan jawabannya LUARBIASA sangat standart dan datar-datar saja. entah lah..

dan pertanyaan itu muali meradiasi beberapa bulan belakangan tepatnya setelah saya mendapat materi kajian menikah saat kuliah di suatu LSM. pandangan pernikahan dalam islam memicu ketidakinginan saya untuk ingin. memunculkan keberanian saya atas ketakutan selama ini yang menjera. memaksa otak saya untuk bersikap dewasa dengan menanggapi kata pernikahan. saya tidak pernah berfikir kalo saya akan menikah betulan, kalo saya akan menjadi seorang istri. itu hanya ada dalam dongeng dan khayalan saya saja. tapi sekarang beda, saya mulai tahu sedikit dari manfaat menikah, kenikmatan cinta dalam pernikahan, keberkahan Tuhan atas pernikahan, dan demi menyempurnakan dien saya. Lillah & RidhoNya yang  insyaAlloh itu yang saya harapkan.
(mumpung saya mau dan mumpung saya masih idealis dengan statment-statment itu)😀

akankah hal yang sama pada teman saya ida akan terjadi pada saya saat saya pulang nanti??
dia, dia melamar saya?
sudahlah.. saya malas membahas itu panjang-panjang. saya ingin sesekali dia yang memulai pertanyaan yang sensitif itu🙂. menanyakan pernikahan yang seperti apa yang saya ingin kan🙂, menanyakan banyak hal tentang persiapannya🙂. tapi tidak lah mungkin dia sepintar itu menanyakan hal-hal seperti itu, dia sangat lemah dan bodoh (menurut saya) mungkin saja dia tidak cukup punya keberanian untuk membicarakannya. saya tidak tahu sampai kapan akan tetap stagnan disini. diambang keputusan yang tidak jelas. mungkin buat dia ini terlalu cepat, yaa, begitupun buat saya. saya hanya butuh kepastian sebagai konsekuensi keseriusannya pada saya.

proposal hampir rampung, kalau dia masih seperti itu terpaksa saya ambil start duluan🙂. melayangkan proposal pada murobbi untuk segera diproses🙂. jika nanti proposal saya laku (aamiin) dan konsekuensi dari diterimanya proposal itu adalah dengan disegerakannya menikah (insyaAlloh) ketika memang hati ini mantap, keluarga setuju, SAYA MAJU!🙂
yaa menikah jarak jauh “married long distance” mungkin akan jadi istilah baru dalam kehidupan saya🙂.
menikah, saya tetap melanjutkan kuliah disini (jember) dan “dia” juga tetap melanjutkan aktivitasnya di kota dimana tempat dia mengais rejeki.
dan pertanyaan itu sekarang bertambah menjadi
kapan??
dia, dengan siapa (dia)??
🙂
wallahualambiishowabb..🙂